Kamis, 11 Maret 2010 | 20:30 WIB
Pengembangan Fungsi Batik Untuk Kepentingan Pelestarian
(Vibizdaily-SosialBudaya), Fungsi batik Indonesia yang terus menerus dikembangkan oleh berbagai kalangan masyarakat membuat salah satu warisan nenek moyang bangsa itu akan tetap lestari.
"Saya tetap optimistis bahwa batik akan berkembang terus dan tidak akan mati karena hingga saat ini telah beragam kegunaannya," kata pemilik perusahaan batik PT Danarhadi Solo, Santosa Doellah, usai menerima "UNS Award" dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, di Solo, Kamis.
Batik yang pada zaman dahulu hanya sebagai kebaya, katanya, saat ini telah digunakan untuk beragam kebutuhan seperti baju seragam dan bahkan suatu karya seni.
Batik Indonesia, katanya, tetap akan memenangi persaingan pasar dengan produk batik luar negeri seperti China yang akhir-akhir ini banyak masuk ke berbagai pasar di Indonesia.
Ia menyatakan optimistis bahwa masyarakat Indonesia tetap gemar terhadap batik karya pengrajin dalam negeri.
Bahkan, katanya, produk batik Indonesia tetap akan menembus pasar internasional pada era perdagangan bebas saat ini.
"Kain bercorak batik berasal dari China itu memang harganya murah tetapi kualitasnya jelek dan kasar apabila dibandingkan denga produk serupa berasal dari dalam negeri. Kami juga sudah memroduksi kain serupa untuk mengantisipasi masalah itu," katanya.
Ia menyatakan terjadinya peningkatan permintaan yang cukup besar atas produk pakaian baik untuk perempuan maupun laki-laki dengan bahan baku batik dalam negeri.
"Kami setiap bulan rata-rata memproduksi baju perempuan yang menggunakan bahan baku kain batik itu lima ribu potong sedangkan permintaan pasar mencapai lebih dari itu, untuk pakaian laki-laki mencapai 10 ribu potong, " katanya.
Rektor UNS Much. Syamsulhadi, mengatakan, pihaknya memberikan "UNS Award" kepada Santosa Doellah karena berbagai jasanya terhadap pengembangan dan pelestarian batik nusantara.
Santosa Doellah, katanya, antara lain telah mengembangkan dan melestarikan kriya seni batik nusantara dan membangun museum batik.
"Di museum batik itu tersimpan berbagai batik kuno berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan jumlah hingga 10 ribu potong," katanya.
Usahanya, katanya, mampu menggerakkan perekonomian masyarakat, mengembangkan dan melestarikan batik nusantara.
(rl/RL/ant)
|