Kamis, 08 Juli 2010 | 07:47 WIB
Tim Hak Asasi Manusia PBB Diprotes Sri Lanka
(Vibizdaily - Internasional) Para pemrotes Sri Lanka yang dipimpin seorang menteri kabinet berkumpul di luar kantor PBB di Kolombo, Rabu, sehari setelah mengepung gedung itu dan menyebabkan para staf terkurung selama beberapa jam.
PBB mengecam para pemrotes, yang mengatakan mereka berkampanye menentang satu tim PBB yang dibentuk untuk membuktikan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia selama perang saudara di Sri Lanka yang berakhir tahun lalu.
Para pengunjuk rasa tidak memblokir jalan masuk kantor PBB, Rabu walaupun tidak jelas apakah para staf diperintahkan untuk tidak datang ke kantor pada hari itu.
"Kami akan tetap melakukan aksi sampai tim PBB itu dibatalkan. Kami ingin satu jawaban pada hari ini," kata Menteri Perumahan Wimal Weerawansa, yang memimpin protes itu.
Ia menyerukan rakyat Sri Lanka di luar negeri melancarkan protes-protes yang sama di luar kantor-kantor PBB di seluruh dunia.
Para karyawan PBB di Kolombo tertahan di dalam kantor selama tujuh jam, Selasa sampai polisi datang untuk mengizinkan mereka keluar di tengah-tengah aksi unjuk rasa yang gaduh itu.
Di New York, PBB mengatakan pihaknya "mengecam keras" protes itu.
"Walaupun menghormati hak warga untuk melakukan unjuk rasa damai, melarang akses ke kantor-kantor PBB menghambat pelaksanaan tugas penting," kata juru bicara PBB Farhan Haq dalam sebuah pernyataan.
Amerika Serikat mengatakan pihaknya juga menghormati hak-hak untuk memprotes tetapi pihaknya mendukung langkah Sekjen PBB Ban Ki-moon untuk membentuk tim itu.
Pemerintah Sri Lanka mengeluarkan sebuah pernyataan yang mendukung keinginan para pengunjuk rasa melanjutkan protes sampai PBB "meninjau kembali masalah tim itu".
Sri Lanka menolak bekerja sama dengan tim itu, yang dibentuk Ban bulan lalu untuk menangani "masalah-masalah pertanggungjawaban" selama perang antara pasukan pemerinth dan pemberontak separatis Macan Tamil.
Pihak oposisi utama pulau itu meminta pemerintah mengakhiri konfrontasi dengan PBB dan bekerjasama dalam penyelidikan itu.
Ban mengunjungi Sri Lanka setelah perang itu berakhir dan Kolombo sependapat dengan dia untuk menyelesaikan tuduhan tindakan-tindakan tentara yang berlebaahn dalam bulan-bulan terakhir perang itu.
Pemberontak Macan Tamil dikalahkan Mei 2009 setelah puluhan tahun konflik, dan PBB mengatakan paling tidak 7.000 warga sipil etnik Tamil tewas dalam empat bulan pertama tahun lalu.
Banyak diplomat menganggap tim yang dipimpin Marzuki Darussan, mantan Jaksa Agung Indonesia, sebagai perintis bagi penyelidikan kejahatan perang penuh.
(bns/BNS/ant)
|