Rabu, 03 Februari 2010 | 11:17 WIB
Pembicaraan Sahara Barat Dimulai Lagi 10-11 Februari
(Vibizdaily - Internasional) Maroko dan gerakan kemerdekaan Sahara Barat akan memulai lagi pembicaraan pekan depan untuk berupaya memperoleh kemajuan dalam perselisihan 35 tahun mengenai wilayah Afrika baratlaut itu, demikian PBB, Selasa.
Para perunding dari kedua musuh itu akan mengadakan pembicaraan tidak resmi yang diperantarai PBB pada 10-11 Februari di Westchester County di utara Kota New York, kata jurubicara PBB Farhan Haq. Ia tidak memberikan perincian lagi mengenai tempat itu.
Maroko mencaplok Sahara Barat pada 1975 dan sekarang menawarkan otonomi, tapi gerakan kemerdekaan Polisario, yang melancarkan perang gerilya hingga 1991, meminta referendum mengenai masa depan wilayah itu dengan kemerdekaan sebagai salah satu pilihan.
Sahara Barat, bekas jajahan Spanyol dengan ukuran sedikit lebih besar dari Inggris, memiliki hanya di bawah setengah juta orang tapi kaya akan pospat -- yang digunakan untuk pupuk -- dan, secara potensial, minyak dan gas lepas pantai.
Tidak ada negara yang mengakui pemerintahan Maroko di Sahara Barat, tapi AS, Prancis dan Spanyol memuji usul otonomi Maroko itu.
Beberapa diplomat Barat mengatakan perselisihan itu telah merintangi upaya untuk mengatasi aksi perlawanan yang terkait dengan al Qaida yang telah meluas ke selatan melalui padang pasir Sahara itu. Ketegangan antara Maroko dan Aljazair, yang mendukung Polisario, juga telah membatalkan upaya untuk membentuk pengelompokan gaya Uni Eropa di wilayah itu.
Maroko dan Polisario telah memulai serangkaian pembicaraan terakhir mereka tiga tahun lalu tapi empat putaran pembicaraan resmi benar-benar tidak mencapai kemajuan. Penengah PBB, bekas diplomat AS Christopher Ross, kemudian mengusulkan pembicaraan tidak resmi untuk meningkatkan atmosfir dan mengerjakan langkah-langkah membangun-kepercayaan.
Pada Agustus, tim-tim perunding yang lebih kecil bertemu di kota Duernstein di Austria, di barat Wina, dan setelah itu memuji sesi itu sebagai "terus-terang" dan "mendalam". Pembicaraan pekan depan akan meneruskan format tidak resmi itu.
Namun pada Desember ketegangan meningkat, ketika aktivis Polisario Aminatou Haidar melakukan mogok makan sebulan lamanya di bandara Spanyol setelah Rabat melarangnya kembali ke Sahara Barat kecuali ia menyatakan kesetiaan pada raja Maroko.
Maroko membiarkannya pulang setelah AS, Spanyol dan sejumlah negara lain campur-tangan.
Maroko, sementara itu, meneruskan rencana untuk memindahkan beberapa kekuasaan ke wilayahnya yang beberapa pengamat katakan terkait dengan usul otonominya untuk Sahara. Beberapa aktivis Polisario mengatakan rencana itu merupakan tabir untuk memperketat kendalinya atas wilayah tersebut.
PBB mengatakan tujuan pembicaraan pekan depan adalah untuk mempersiapkan dasar bagi putaran pembicaraan resmi lain.
Kantor Polisario di New York menyatakan timnya akan sama seperti pada pembicaraan di Austria, dipimpin oleh Mahfoud Ali Beiba, ketua perleman Polisario di pengasingan. Menlu Maroko Taieb Fassi Fihri memimpin tim negaranya di Duernstein, Austria.
(rs/RS/ant)
|