.jpg)
(Vibizdaily-Bisnis)
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) M. Ikhsan Modjo mengatakan, pemberlakuan perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN dengan China (ACFTA) semakin memperburuk kualitas pertumbuhan ekonomi meski pertumbuhan ekonomi agregat akan meningkat.
"Ya kualitas pertumbuhan turun, unemployment (pengangguran) akan naik dan ketimpangan meningkat," katanya saat ditanya dampak ACFTA terhadap Indonesia seusai acara economic outlook 2010 di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2010 akan lebih baik dibandingkan 2009. Indef memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencpai 5,3 persen, lebih tinggi dibandingkan 2009 yang diproyeksikan sebesar 4,5 persen.
Pemberlakuan ACFTA saat ini, menurut dia, akan membuat sumbangan sektor perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi meningkat pesat sementara sumbangan sektor industri terutama manufaktur turun drastis, bahkan sektor tersebut terpukul berat.
"Ini adalah pengaplikasian apa yang dinamakan deindustrialisasi. Ada sembilan sub sektor industri yang terpukul hebat. Sayangnya industri yang terpukul hebat ini adalah industri padat karya," katanya.
Menurut perhitungannya, rata-rata sub sektor industri tersebut akan mengalami kehilangan utilisasi sebesar 10-30 persen.
Ia menambahkan, industri yang terpukul hebat diantaranya industri mainan, sepatu, dan kimia.
Untuk industri mainan, menurut dia, produk china akan menguasai pasar hingga 90 persen dari sebelumnya yang sebesar 50 persen.
"China hampir menguasai sepenuhnya pangsa pasar industri ini, dan sekitar 97 ribu orang akan kehilangan pekerjaan," katanya.
Sedangkan sepatu, dari 50 persen menjadi 60 persen penguasaan pangsa pasarnya. Hal ini, menurut dia, akan mengakibatkan sekitar 500 ribu orang dari industri akan terkena PHK.
Sedangkan industri lampu, menurut dia, kapasitas utilisasinya akan berkurang dari 20 persen menjadi 15 persen.
"Kita perkirakan semuanya mencapai sekitar satu juta orang kehilangan lapangan pekerjaan," katanya.
Namun demikian, menurut dia, akan tumbuh lapangan pekerjaan di sektor informal terutama di perdagangan. Namun demikian serapan sektor informal tersebut diperkirakan akan menurunkan derajat pendapatannya.
"Meski mungkin tidak miskin menurut ukuran BPS yaitu Rp200 ribu per orang per bulan," katanya.
(ma/MA/ant)