Selasa, 09 Februari 2010 | 05:27 WIB
10 Tentara Yaman Tewas Dalam Pertempuran Dengan Gerilyawan
(Vibizdaily - Internasional) Sepuluh tentara Yaman tewas, sebagian besar akibat serangan penembak gelap, 18 lainnya cedera dalam pertempuran baru dengan gerilyawan Syiah, kata seorang pejabat militer, Senin.
Baku tembak terbaru itu terjadi beberapa hari setelah pemerintah mengumumkan satu rencana bagi gencatan senjata yang belum dijawab pihak gerilyawan.
Pertempuran itu terjadi di sekitar kota Saada, di Harf Sufyan yang terletak selatan kota itu dan daerah perbatasan Malahidh, kata pejabat tersebut yang tidak bersedia namanya disebutkan kepada AFP.
Ia menambahkan sebagian besar mereka yang tewas itu ditembak oleh para penembak gelap.
Pejabat itu juga mengatakan satu kelompok terdiri atas ratusan tentara Yaman yang dikepung pasukan gerilyawan di daerah pegunungan tenggara Saada dapat melepaskan diri dari kepungan itu, Senin.
Para gerilyawan menggali parit dan meletakkan ranjau-ranjau di Jebel al Samah, membuat para tentara itu terperangkap selama 10 hari belakangan ini.
Pejabat itu, mengatakan "ada korban" dalam pertempuran itu, tetapi tidak menjelaskan lebih jauh.
Pemerintah Yaman, Sabtu mengumumkan satu rencana bagi pelaksanaan gencatan senjata, setelah gerilyawan menyetujui enam syarat bagi diakhirinya perang.
Rincian jadwal itu disampaikan kepada pemimpin gerilyawan Abdul Malak al Huthi melalui perantara , kata penasehat presiden Abdul karim al Ariania.
Sanaa menginginkan gerilyawan mundur dari gedung-gedung pemerintah dan meninggalkan pos-pos militer di daerah-daerah pegunungan, membuka kembali jalan-jalan di utara, mengembalikan senjata-senjata yang direbut dari pasukan keamanan, membebaskan semua tahanan militer dan sipil termasuk warga Arab Saudi, menghormati undang-undang dan konstitusi, dan berjanji tidak akan menyerang Arab Saudi.
Pemerintah dan gerilyawan yang juga dikenal sebagai kelompok Houthi,terlibat bentrokan senjata sejak tahun 2004.
Baku tembak terbaru meletus 11 Agustus , ketika pasukan pemerintah melancarkan "Operasi Bumi Hangus"-- satu serangan besar-besaran untuk menghancurkan gerilyawan itu.
Arab Saudi memasuki konflk itu 4 November , sehari setelah gerilyawan Huthi menewaskan seorang penjaga perbatasan Arab Saudi dan menduduki dua desa di wilayah Arab Saudi.
Pihak gerilyawan menuduh kerajaan itu membantu pasukan Yaman, satu tuduhan yang dibantahnya.
Gerilyawan itu mengumumkan penarikan mereka dari wilayah Arab Saudi itu 25 Januari.
Badan pengungsi PBB mengatakan sekitar 250.000 orang terlantar akibat pertempuran itu.
(as/AS/ant)
|