Korupsi

Jangan Katakan Pemberantasan Korupsi Sebagai Musibah

Saat ditetapkan sebagai tersangka baru karena pengembangan kasus suap pengesahan Rancangan Anggaran dan Belanja Daerah Provinsi Jambi, Zumi Zola dapat bersikap secara wajar.

 

Ia meminta maaf kepada warga masyarakat di wilayahnya serta berjanji akan menjalani proses hukum sesuai aturan.

 

Sikap kurang professional justru diperlihatkan oleh koleganya yang juga politisi dari PAN, Bima Arya Sugiarto, Bupati Bogor yang juga Wakil Ketua Umum PAN. Yang bersangkutan berkomentar bahwa ini adalah cobaan serta musibah luar biasa serta berharap akan penegakan keadilan.

 

Ia bukanlah politisi yang pertama dan satu-satunya yang berpendapat bahwa politisi yang ditetapkan sebagai tersangka berarti tengah mengalami musibah atau cobaan. Saat KPK melakukan OTT kepada Nyono Suharli Wihandoko, Bupati Jombang, beberapa hari yang lalu, lagi-lagi koleganya yang sesama kader Partai Golkar menyebut itu sebagai musibah.

 

Masyarakat tentu masih dapat mengingat dalam banyak kasus serupa, para politisi yang merupakan kolega politisi yang terbelit kasus korupsi atau menjadi tersangka seringkali menyatakan hal demikian.

 

Pada kasus Sengketa Pilkada Kabupaten Lebak yang melibatkan Tubagus Chaery Wardana atau Wawan 5 tahun yang lalu dan diduga menyuap Akil Mochtar yang pada saat itu berkedudukan sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi, hal serupa juga terjadi.

 

Ratu Atut Chosiyah yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur Banten sekaligus kakak kandung Wawan menyampaikan sambutan dalam sebuah acara pengajian Poker Online dengan mengatakan bahwa dirinya meminta doa dari seluruh masyarakat atas musibah yang terjadi pada keluarganya.

 

Pada kasus dugaan korupsi proyek pengadaan PLTU Tarahan, politisi Emir Moeis lagi-lagi menyebut penetapannya sebagai terdakwa adalah musibah. Hal ini diucapkan dalam pledoi pada pengadilan Tipikor pada kasus tersebut.

 

Hampir serupa, pada kasus korupsi Bupati Bogor Rachmat Yasin yang terbelit masalah dalam pembebasan lahan, kolega satu partainya memberikan pernyataan bahwa kasus tersebut merupakan cobaan dan musibah untuk PPP.

 

 

Sebagaimana yang kita ketahui musibah adalah malapetaka yang berasal dari kekuatan di luar manusia biasa serta datangnya tanpa diduga-duga. Sementara cobaan lebih berarti sebagai ujian untuk loyal kepada Tuhan atau kepada nilai-nilai yang menjadi prinsip. Keduanya tentu tak dapat diberlakukan pada penetapan status tersangka pada kasus korupsi atau pun OTT oleh KPK.

 

Kedua peristiwa OTT serta penetapan status tersangka korupsi tak termasuk dalam kategori musibah karena keduanya  terjadi karena terjadi dengan metode tertentu, dapat direncanakan, serta bukanlah sesuatu yang diluar kekuasaan manusia.

 

OTT dan menjadikan seseorang sebagai tersangka merupakan bagian dari proses hukum atau akibat dari tindakan seseorang yang sebelumnya pernah dilakukan. Sekali lagi, penetapan status tersangka serta OTT adalah konsekuensi atas tindakan yang telah diperbuat bagi pelaku, keluarga, serta organisasinya.

 

Menggunakan kata musibah serta cobaan berkaitan dengan proses hukum pemberantasan tindak kejahatan korupsi merupakan praktik politik bahasa. Kedua kata yang memberikan nuansa religious tersebut posisi pelaku disamarkan menjadi posisi korban.

 

Hal ini bisa berbahaya terutama bagi masyarakat awam karena label cobaan serta musibah tersebut dapat membiaskan tindakan-tindakan pidana yang disangkakan kepada  yang bersangkutan. Lebih jauh lagi penggunaan kata musibah serta cobaan justru memposisikan tindakan pemberantasan korupsi merupakan bentuk malapetaka serta kesialan yang harus dihindarkan.

 

Padahal, alih-alih upaya pemberantasan korupsi, yang justru harus dihindari oleh masyarakat adalah korupsi. Dapat dikatakan malapetaka yang sesungguhnya adalah oknum koruptor dan tindak pidana korupsi yang dilakukan baik secara sendiri-sendiri atau pun bersama-sama dengan berbagai modus.